Pernahkah anda berpikir bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini adalah karena sebuah jalan yang kita pilih sendiri, bukanlah sebuah takdir yang pasti akan terjadi menimpa kita? Pertanyaan retoris ini sebenarnya sudah mulai disadari oleh beberapa orang, yaitu orang-orang yang mau berpikir. Hal ini bukan berarti menyataan bahwa tidak ada yang namanya takdir dalam kehidupan kita, tetapi memberi definisi dan pemahaman yang berbeda bagi orang-orang yang belum memahaminya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, takdir adalah ketetapan Tuhan; ketentuan Tuhan; atau nasib. Selama ini banyak orang berpikiran bahwa ketentuan Tuhan atau nasib ini adalah peristiwa-peristiwa yang sudah pasti terjadi dan tidak mungkin di hindari seperti terjadinya suatu kecelakaan, musibah, dan hal lain sebagainya. Sebenarnya ada takdir yang dapat kita ubah dan ada yang tidak dapat diubah. Takdir yang tidak dapat diubah adalah takdir yang sudah diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dan kita sebagai manusia tidak mungkin dapat merubahnya dengan cara apapun juga. Contohnya, kita terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Apapun gender kita, kita tidak mungkin merubahnya sendiri. Sedangkan takdir yang dapat diubah sebenarnya merupakan sesuatu yang akan terjadi dan memiliki banyak jalan yang dapat kita pilih untuk menemuinya. Contohnya, kecelakaan pada saat kita berkendaraan. Sebenarnya kita masih dapat merubah agar hal ini tidak terjadi. Cara yang paling efektif tentu saja dengan berdo’a untuk keselamatan kita, karena do’a dapat merubah takdir seperti itu jika kita mendapat izin perlindungan dari-Nya. Di samping berdo’a, satu hal yang paling masuk akal adalah berusaha untuk menghindarinya sendiri. Karena berdo’a sekalipun tidak akan membuahkan hasil tanpa dibarengi usaha. Coba saja kalo kita tidak berusaha berlatih menyetir mobil tetapi nekat untuk mengendarainya sendiri, tentu saja kita akan rawan mengalami kecelakaan karena kita tidak berusaha untuk mengetahui bagaimana cara menyetir yang baik. Contoh lain adalah kematian seseorang. Bahkan kematian pun memiliki banyak jalan untuk menemuinya. Seseorang dapat menemui ajalnya karena sakit, kecelakaan, atau bunuh diri. Padahal hal ini dapat dihindari, misalnya berobat agar sembuh, lebih berhati-hati agar selamat dalam perjalanan, atau tidak mudah putus harapan hidup dan berusaha bunuh diri, kecuali kalau kita menemui kematian sebagai takdir yang tidak dapat diubah lagi. Untuk memperjelasnya, dari contoh ini kita seharusnya dapat memahami bahwa kematian merupakan takdir yang tidak dapat diubah lagi, sedangkan berbagai jalan untuk menemuinya merupakan pilihan sebagai takdir yang dapat kita ubah dengan cara berusaha dan berdo’a.
Lalu bagaimana dengan pilihan? Banyak hal yang harus kita pikirkan baik-baik untuk memilih saat kita mengalami persimpangan hidup. Faktor permasalahan terbesar dalam hal ini adalah terkadang kita sendiri tidak sadar bahwa kita sedang mengalami persimpangan tersebut. Bahkan kita dapat memilih pilihan dalam persimpangan ini hanya karena suatu hal kecil yang dampaknya sangat besar, yaitu niat.
Saya sendiri telah mengalami hal tersebut. Sesuatu yang sudah banyak merubah kehidupan saya ternyata semuanya berawal dari niat. Sebuah niat untuk mendengarkan ajakan seorang teman sekelas saat SMA untuk mengikuti kegiatan pembinaan motivasi. Ternyata di dalam sana banyak hal yang saya dapatkan, bahkan saya mendapatkan informasi adanya suatu bimbingan belajar yang baru dan berkualitas. Sampai akhirnya saya mengikuti bimbel tersebut dan di dalam sana lebih banyak lagi hal berharga yang saya dapatkan sehingga banyak merubah hidup saya. Hanya dari sebuah niat untuk mendengarkan ajakan seseorang saja ternyata dapat membawa saya kepada keadaan yang saya rasakan sekarang.
Pilihlah takdir anda dengan ber’doa dan berusaha memilihnya dengan berpikir sebaik mungkin. Dalam mengambil pilihan, pikirkan apakah pilihan kita cenderung menghasilkan hal yang positif atau negatif. Sebaiknya anda jangan ragu untuk memilih pilihan tersebut selama itu lebih menghasilkan hal yang positif untuk diri kita.
“Life will find the way, if we know the path”

which doors will you choose?
